
TEMPO.CO, Jakarta - Jika Anda dan pasangan sudah menikah cukup lama, mungkin Anda berpikir untuk hamil dan memiliki buah hati. Namun kadang kala keinginan tak sesuai dengan kenyataan. Sebagian pasangan tak langsung mewujudkannya karena berbagai alasan, salah satunya gangguan kesuburan.
Anda dan pasangan mungkin tak terlalu khawatir, tapi kadang-kadang kondisi ini menjadi omongan orang-orang terdekat Anda. Mereka tahu bahwa omongan itu dapat memicu stres. Ahli fertilitas di Sunfert International Fertility Centre, Kuala Lumpur Eeson Sinthamoney, mengatakan stres membuat rencana hamil jadi semakin tidak mudah.
Selain stres, berikut penyebab mengapa hingga kini harapan dua garis dalam testpack yang Anda beli belum juga muncul.
1. Frekuensi hubungan seksual
Bagi kebanyakan orang terdengar seperti tidak etis, tapi dalam kenyataan menurut Eeson banyak pasangan yang berkonsultasi di klinik dan mengaku bahwa mereka tidak cukup sering bercinta atau berhubungan seksual.
"Banyak alasannya, soal waktu, stres karena pekerjaan dan alasan lain yang akhirnya mempengaruhi frekuensi. Padahal hal tersebut sangat berpengaruh," ujar dia saat ditemui dalam peluncuran program "Harapan Dua Garis" dari Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020.
2. Melakukan hubungan seksual di saat yang tidak tepat
Seperti yang diketahui jika rata-rata sperma dapat bertahan dalam tubuh wanita sampai tiga hari, sementara telur sampai dua hari bahkan ada yang satu hari. Jadi, masa subur hanya sekitar lima sampai tujuh hari.
"Oleh karena itu penting mengetahui mekanisme periode masa subur untuk mengoptimalkan pembuahan saat ovulasi berlangsung," ujar Eeson.
3. Tidak melakukannya dengan benar
Hal ini mungkin terdengar penyebab subfertilitas menjadi aneh, namun memang pernah dijumpai beberapa pasangan yang belum melakukan hubungan seksual dengan benar.
"Kami pernah menemukan pasangan yang sudah berbulan-bulan menikah tapi tidak kunjung hamil ternyata saat pemeriksaan selaput dara wanita masih utuh. Penetrasi tidak sampai ke bagian dalam vagina," ucapnya lagi.
4. Kesulitan melakukan hubungan seksual
Dalam beberapa kasus, para pasangan yang sudah mengerti konsep berhubungan seksual yang benar, namun masih sulit dilakukan. Akibatnya tidak bisa saling memuaskan karena mengaku kesulitan.
Kondisi di atas disebut dengan disfungsi seksual. Untuk laki-laki disebut ejakulasi dini atau kesulitan ereksi sementara wanita vaginismus. Jika ingin punya anak, terapi pembuahan masih bisa dilakukan, tapi jika tidak lekas diobati, kondisi ini bisa menyebabkan infertilitas atau gangguan kesuburan.
Source: Tempo.co
shahizam.f@mhtc.org.my
Muhammad Rasydan Ma’at
Asst. Manager, Communications
+603 8776 6168
rasydan.m@mhtc.org.my
Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), established in 2009 under the purview of the Ministry of Health (MOH) Malaysia, is entrusted with developing and nurturing the “Malaysia Healthcare” brand. MHTC enhances, coordinates, and promotes Malaysia’s healthcare travel industry by fostering industry collaborations and building valuable public-private partnerships both domestically and internationally. With 80 member hospitals nationwide, MHTC continues to elevate the healthcare travel ecosystem through strong branding, seamless patient experiences, and strategic market initiatives. In line with these efforts, MHTC is spearheading the Malaysia Year of Medical Tourism (MYMT) 2026, the nation’s first dedicated year to celebrate and advance healthcare travel. MYMT 2026 serves as a milestone initiative to showcase Malaysia’s world-class healthcare offerings, strengthen its position as the premier global healthcare destination, and highlight the industry’s significant contribution to the national economy. More information can be found at https://www.mhtc.org.my/.
